Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) is a group of scholar-activists driven to help to tackle social problems, especially for intergroup conflicts, humanitarian issues, and violent extremism. Social psychology perspectives and method are used as a tool: to understand how people think, influence and relate to one another in a societal context and everyday discourses; and to modify, guide, as well as intervene people’ minds and behaviors, especially into more humanize.

News and Events

Division for Applied Social Psychology Research

news

RESENSI BUKU: Panduan Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstrimisme Kekerasan Tingkat Desa

KabarIndonesia - Buku berjudul "Panduan Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstremisme Kekerasan Tingkat Desa", diterbitkan oleh Indonesia Civil Society Against Violent Extremism (CSAVE) dan Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) dari Ichsan Malik Centre for Peace and Dialog, 24 Februari 2019, vi+84 hlm, luas buku A5.


"Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstrimisme Kekerasan Tingkat Desa adalah sistem yang ditujukan bagi warga desa untuk dapat mendeteksi tanda dan gejala awal ekstrimisme kekerasan dan melakukan penanganan sedini mungkin di tingkat desa dengan sistem rujukan di tingkat kecamatan dan kabupaten"(hlm.8). Sistem ini ditujukan sebagai upaya pencegahan penyebaran ideologi ekstrimisme kekerasan sehingga warga masyarakat tidak terjebak pada proses radikalisasi lebih lanjut dengan resiko yang lebih berat. 


Dalam sistem deteksi ini, berlaku prinsip-prinsip : prinsip Do-No-Harm (prinsip tidak memunculkan bahaya dan pengrusakan lebih lanjut), prinsip kehati-hatian (prudential), prinsip menghargai keindividuan (individual differences),prinsip perlindungan HAM, prinsip kerahasiaan dan akuntabilitas, prinsip kepekaan sosial, prinsip kesetaraan, prinsip kesetaraan gender, dan prinsip pemenuhan hak anak.


Adanya Tim Desa dalam sistem ini tentunya banyak menimbulkan pertanyaan bagi banyak kalangan di desa atau kelurahan, seperti apa itu? Buku ini mencoba menawarkan sebuah sistem yang digambarkan bisa dijadikan model di tingkat desa. Berangkat dari pilot project di 10 desa, buku ini mencoba berbagi informasi dan capaiannya dalam upaya membangun sistem deteksi dan penanganan dini terhadap ekstrimisme kekerasan di tingkat desa. Gambaran bagaimana sistem ini bekerja dijelaskan dengan memaparkan adanya Tim Desa dan peran-perannya, dan ditampilkan alur tata laksana pengelolaan kasus.


Buku ini memberikan pengetahuan bagi para pembaca tentang apa itu ekstrimisme kekerasan dan radikalisme yang berpotensi pada ekstrimisme kekerasan. Sekilas tentang sejarah ekstrimisme kekerasan di Indonesia dipaparkan-mulai dari Gerakan NII Kartosoewirjo (1949), Komando Jihad (1968-1981), Gerakan Front Pembebasan Muslim Indonesia (1977-1981), Jamaah Islamiyah--JI (1990), Front Pembela Islam--FPI (1998), Majelis Mujahidin Indonesia (2000), Jamaah Ansharut Tauhid--JAT(2008), Mujahidin Indonesia Timur--MIT (2010), Jamaah Ansharusy Syariah-JAS(2014), Jamaah Ansharud Daulah-JAD (2015) yang berafiliasi dengan ISIS, tahun 2016 tercatat 530 orang Indonesia ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS (BNPT), yang didominasi oleh radikalisasi agama yang mengejawantahkan dalam bentuk gerakan pemberontakan terhadap ideologi negara NKRI dan mengajarkan nilai ekstrimisme kekerasan, seperti orang yang tidak seiman boleh dibunuh, disembelih, dipenggal dan seterusnya. Sayangnya, catatan gerakan ekstrimisme kekerasan yang disajikan hanya dari kelompok radikalis Islam; apakah memang tidak ada catatan sejarah dari kelompok radikalis lainnya yang juga menimbulkan ektrimisme kekerasan? 


Buku ini juga memberikan pembelajaran tentang gejala-gejala perubahan sikap dan perilaku manusia dalam hubungan sosial, ideologi, dan tindakan kriminal. Dari sini, derajat intensitas bahaya bisa dikenali dalam tiga bagian/kelompok, yaitu tingkat 1) Waspada, sebagai derajat bahaya rendah dengan adanya tindakan ektrimisme berskala kecil; 2) Siaga, sebagai derajat bahaya menengah dengan adanya penyebarluasan paham dan kegiatan ekstrimisme kekerasan; 3)Awas, sebagai derajat bahaya tinggi dengan adanya aksi ekstrimisme kekerasan. 


Berbagai upaya pencegahan dan penanganan kasus ditawarkan dengan basis analisis akademis, karena muatan buku ini nampak kental berangkat dari teori dan refensi akademis. Upaya-upaya pencegahan melalui : peningkatan daya kritis individu, peran penting keluarga, pendidikan dan pergaulan anak, pengasuhan anak (parenting), dan keterlibatan masyarakat desa dalam penerapan sistem deteksi dan penanganan dini. Akhirnya, buku ini mencoba memberikan kejelasan tentang Tim Desa yang diwujudkan dalam deskripsi Struktur Tim Desa lengkap dengan peran dan tugasnya. Dan yang menarik adalah penyajian 7 kasus di Indonesia yang telah dicatat dalam program CSAVE. 


Secara keseluruhan, buku ini cukup baik dalam memberikan pemaparan tentang adanya bahaya gerakan radikalisme dan ekstrimisme kekerasan di Indonesia, dan bagaimana upaya-upaya bisa dilakukan di tingkat individu dan di tingkat desa sebagai upaya sistemik yang ditawarkan dengan melibatkan aparat pemerintahan desa dan semua elemen masyarakat. Upaya kerja keras untuk menyusun buku ini oleh para kontributor : Fajar Erikha, Vici Sofianna Putera, Any Rufaedah, dan Idhamsyah Eka Putra perlu mendapatkan apresiasi tersendiri, dan tentunya juga atas dukungan Mira Kusumarini sebagai penanggungjawab program dan pengadaan buku ini. 


Catatan minor yang perlu diperhatikan adalah pendekatan ini lebih bersifat top-down ketimbang pendekatan partisipatif yang memanfaatkan secara optimal modal sosial-budaya yang ada dalam masyarakat lokal. Namun demikian, upaya intervensi ini tetap perlu sebagai upaya besar yang menjadi tanggungjawab bersama, sebelum semuanya terlambat dan bahaya ekstrimisme kekerasan memakan korban jiwa anak-anak bangsa kita sendiri. Buku ini perlu dan penting untuk menjadi salah satu bahan bacaan di sekolah-sekolah, madrasah, pesantren, kelompok belajar, dan perpustakaan di daerah-daerah dalam rangka menjaga keutuhan NKRI dan kedamaian hidup berbangsa dan bernegara yang dinamis.(*)


Penulis : Djuneidi Saripurnawan, konsultan teknis CSAVE Indonesia(2019), Alumnus Studi Antropologi-Universitas Gadjah Mada dan Teknik Sipil-UAJY Yogyakarta. 



Sumber Asli: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&jd=RESENSI+BUKU%3A+Panduan+Sistem+Deteksi+dan+Penanganan+Dini+Ekstrimisme+Kekerasan+Tingkat+Desa&dn=20190226061104

news

Begini Sikap Mantan Teroris Terkait Pembakaran Bendera Bertuliskan Tahlil

Jakarta, Gatra.com - Insiden pembakaran bendera bertuliskan lafal tahlil turut menjadi sorotan mantan narapidana kasus terorisme Nasir Abas. 

Bekas anggota Jamaah Islamiyah (JI) ini menghimbau agar umat islam saat jangan mudah terprovokasi dengan peristiwa yang bisa memecah belah persatuan umat. 

Menurut Nasir Abas, insiden pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser perlu dipahami secara jernih. 

Memang menurutnya, adakalanya kertas atau benda yang bertuliskan lafal Al Quran boleh dibakar untuk tujuan tertentu. 

Misalnya jika khawatir akan dibuang di tempat sampah. Hanya saja proses membakarnya tidak disertai emosi atau mungkin perasaan senang. Apalagi disaksikan oleh banyak orang.

“Seperti kasus dulu ada kertas yang isinya ayat Quran justru dibuat bungkus (makanan). Ini kan tidak benar, ini persoalan akhlak,” tuturnya pada pengajian mantan narapidana teroris yang diadakan Rumah Daulat Buku (Rudalku) di Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (24/10) 

Rumah Daulat Buku merupakan gerakan literasi yang didirikan Soffa Ihsan untuk meningkatkan minat baca para mantan narapidana terorisme (napiter) agar berfikiran terbuka dan menjauhi radikalisme. 

Pada pengajian siang itu, Nasir Abas menyampaikan ceramah bertema “Dari Jihadis ke Dakwah Berdasarkan Ilmu”. 

Ada 10 nara pidana teroris (napiter) yang hadir, di antaranya yang pernah terlibat kasus Bom Buku, Bom JW Marriot, konflik Ambon, dan Bom Beji-Depok. 

Pada pengajian ke empat yang diadakan Rudalku, Nasir Abas menekankan pentingnya menggunakan akhlak dalam menyikapi berbagai hal. 

Pasalnya, Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu jihad pun harus dengan akhlak, tidak bisa hanya dengan mengandalkan semangat. 

Untuk menggapai akhlak terpuji, menurut Nasir Abas, diperlukan ilmu agama yang mendalam. 

Ada pun mengenai jihad yang berarti perang, Nasir Abas menjelaskan, tidak bisa ditafsirkan oleh muslim perorangan, malainkan harus ijtihad para ulama. 

Itupun harus disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu. 

“Misalnya dulu ada resolusi jihad oleh kyai haji Hasyim Asy’ari (Pendiri NU). Itu merupakan kebutuhan saat itu demi melawan penjajah. Ada ulama sekaliber kyai Hasyim Asy’ari yang menjadi rujukan,” jelasnya. 

Untuk konteks kondisi saat ini yang dalam keadaan damai, menurut Nasir Abas, semangat jihad harus diarahkan untuk mencari ilmu, dan berupaya bermanfaat bagi umat. 

“Karena itu nabi sendiri sudah menjelaskan misalnya orang yang tenggelam atau kena bencana alam atau saat mencari nafkah keluarganya merupakan jihad, yang bisa menjadikan seseorang menjadi syahid,” imbuhnya. 

Kepada para mantan napiter, Nasir Abas mengingatkan bahwa jangan berfikir jihad selalu memiliki arti perang dan tujuannya untuk mati. 

“Seperti Kholid bin Walid yang berkali-kali perang tapi wafatnya di tempat tidur. Hikmahnya bahwa jihad dalam arti perang perlu dihindari kecuali situasi mendesak. Yang penting jjihad dalam artian mashlahat bagi umat. Ini yg perlu diwujudkan,” pungkasnya.


https://www.gatra.com/detail/news/359139-Begini-Sikap-Mantan-Teroris-Terkait-Pembakaran-Bendera-Bertuliskan-Tahlil

news

Tragedi Bom Sri Lanka di Hari Paskah: Perspektif Psikologi

Serangan teror di Sri Lanka 21 April 2019 lalu benar-benar menyedot perhatian dunia. Bukan serangan biasa, ledakan di tiga gereja, tiga hotel mewah, dan satu lokasi di sebuah perumahan terjadi sekaligus. Otoritas Sri Lanka menyebut National Thowheeth Jama’ath (NTJ) adalah pelaku serangan. Belum ada yang dapat memastikan apakah serangan berkaitan dengan Islamic State (IS/ISIS) pada saat itu. Jawaban muncul dua hari setelah serangan. Pemilihan gereja dan hotel bertaraf internasional dimaksudkan untuk menyerang koalisi against ISIS–di mana Amerika paling aktif–secara tidak langsung (lihat: Katz, 2019)


ISIS menyatakan bertanggung jawab atas serangan Sri Lanka melalui media resminya, Amaq. ISIS juga merilis video baiat Zahran Hashim, pendiri NTJ dan juga pimpinan amaliyah (operasi), bersama tujuh pelaku lainnya, sebelum melakukan amaliyah. Dalam video itu, Zahran dan rekan tampak sangat mempersiapkan diri. Semua mengenakan jubah berwarna abu-abu dan sorban penutup kepala (kecuali Zahran) yang sama. 


Kondisi Sri Lanka tidak segera mereda. Jumat (26/4), terduga kelompok Zahran Hashim meledakkan diri saat polisi melakukan penggerebekan. 15 orang termasuk enam anak meninggal akibat ledakan tersebut (bbm.com). Kepolisian menangkap lebih dari 70 terduga, termasuk empat perempuan. Sebagian besar memiliki hubungan keluarga atau teman pelaku serangan (cnn.com).


Bagi saya yang menekuni kajian psikologi, ada beberapa hal menarik yang dapat ditinjau dari perspektif psikologi. Serangan Sri Lanka disebut-sebut sebagai aksi balas dendam terhadap New Zealand attack 15 Mei lalu. Dugaan ini perlu dipertanyakan ulang. 


Setelah peristiwa New Zealand, banyak sekali umat Kristiani yang melakukan aksi solidaritas (lihat: bbc.com; aljazeera.com). Perdana Menteri Zew Zealand, Jacinda Ardern, dan perempuan dari berbagai profesi mengenakan hijab sebagai tanda solidaritas terdapat Muslim (www.washingtonpost.com). Senator Queensland, Fraser Anning, menerima mosi kecaman dari senator lainnya dan masyarakat dunia atas komentarnya yang menyalahkan korban (cbsnews.com). 


Solidaritas dari non-Muslim yang sebagian besar adalah Nasrani seharusnya cukup menjadi alasan untuk tidak balas dendam. Brenton Tarrant adalah oknum dari minoritas Kristen yang tidak menyukai Muslim. Ia sama sekali bukan representasi Nasrani. Benarkah Easter Sunday blast adalah balas dendam terhadap serangan New Zealand? Saya berpandangan tidak. New Zealand dapat menjadi faktor pendorong, tetapi prosentasenya kecil. Misi utama ISIS adalah mengalahkan Global Coalition Against ISIS yang berisi 79 anggota (74 negara dan 5 organisasi internasional). 


ISIS telah kehilangan banyak wilayah kekuasaan. Sejak 2015 hingga 2018, wilayah ISIS semakin menyempit. Tahun ini pun ISIS belum bebas dari gempuran. Koalisi global mengambil alih Baghouz, sebuah kota di Provinsi Deir ez-Zor, Syria. ISIS boleh dibilang semakin terjepit. Kondisi itu meningkatkan tensi untuk melakukan serangan balik dengan porsi yang sebanding. Kita tinjau kembali tujuh serangan di Sri Lanka, ISIS menentukan target sangat besar. Hal itu mencerminkan tingginya tensi balas dendam terhadap koalisi.


Pertanyaan selanjutnya adalah, Sri Lanka bukan negara yang tergabung dalam koalisi against ISIS, namun mengapa justru menjadi sasaran teror? Sasaran ISIS bukan lagi wilayah, melainkan kelompok. Abu Bakar al Baghdadi telah memperbolehkan junud (tentara) ISIS untuk melakukan jihad di manapun, terutama bagi mereka yang tidak dapat hijrah ke Syria atau Iraq. 


Bom Surabaya tahun lalu dan bom Sulu, Filipina, adalah contoh jihad yang dilakukan para junud di luar Syria dan Iraq. Sasaran mereka adalah kelompok non-Muslim, terutama penganut agama Kristen yang dianggap sebagai representasi Amerika. Begitu pula yang terjadi di Sri Lanka. Pemilihan gereja dan hotel bertaraf internasional dimaksudkan untuk menyerang koalisi against ISIS –dimana Amerika paling aktif – secara tidak langsung. 


Interpretasi al wala’ wal baro’


Salah satu prinsip utama ISIS adalah al-wala’ wal bara’. Al-wala’ wal bara’ secara harfiah berarti loyal terhadap Muslim dan berlepas diri dari kekafiran dan perbuatan buruk (lihat: Ferdiansyah, 2018). Namun kelompok ISIS memaknainya dengan loyal terhadap amirul mukminin dan membenci orang kafir (Gunaratna, 2019). Ideologi khilafah memang mensyaratkan kepatuhan terhadap amirul mukminin.


Oleh karena itu, loyal terhadap amirul mukminin sudah dianggap sebagai loyal terhadap Muslim. Prosesi baiat sebelum melakukan amaliyah ishtishadi (bom bunuh diri) di Sri Lanka adalah bukti loyalitas terhadap amirul mukminin. Dan serangan adalah bentuk dari sikap bara’. Interpretasi al wala’ wal bara’ inilah yang menjadi pendorong serta justifikasi tindakan teror. 


Dalam kajian psikologi sosial, perilaku umumnya didahului oleh sikap. Jika sikap anda setuju terhadap A, maka kemungkinan anda akan melakukan tindakan-tindakan mendukung A. Para ‘pengantin’ Sri Lanka bombing begitu sangat yakin dan ‘brutal’ membunuh sebanyak-banyaknya non-Muslim karena konsep bara’ yang dimaknai ‘membenci’ non-Muslim. 

Korelasi Ekonomi dan Pendidikan dengan Terorisme


Para pelaku serangan Sri Lanka adalah orang-orang berkecukupan dan berpendidikan tinggi. Ilham Ahmed Ibrahim dan Inshaf adalah anak pengusaha rempah-rempah, Mohamed Ibrahim - yang oleh New York Time (27/4) disebut milioner. Ia pemilik Ishana Exports yang merupakan eksporter rempah-rempah terbesar di Sri Lanka sejak 2006 (cnn.com). Seorang menantu Ibrahim juga meledakkan diri saat polisi menggerebek rumahnya. 


Seorang pelaku lainnya diketahui mendapat pendidikan di Inggris dan menyelesaikan gelar master di Australia (bostonglobe.com). Data-data ini menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Namun, hal itu tidak mengherankan. Studi-studi psikologi tidak menemukan hubungan yang kuat antara status ekonomi dan pendidikan dengan aksi teror. 


Kita dapat melihatnya pada pelaku bom Bali, Osama bin Laden, dan Abu Bakar al Baghdadi. Pelaku bom Bali adalah putra-putra pemilik pondok pesantren di Lamongan. Mereka mapan secara ekonomi dan juga mendapat pendidikan yang baik. Osama bin Laden adalah anak milioner Saudi yangmemiliki perusahaan konstruksi. 


Sementara amir ISIS saat ini, Abu Bakar al Baghdadi, bergelar doktor. Kita juga pernah mendengar nama Dr. Azahari yang mendanai dan menjadi otak bom Bali, Kedutaan Australia, dan Hotel J Marriot. Ia mengenyam pendidikan di Australia dan Inggris dan pernah menjadi dosen. Temuan penelitian saya juga menghasilkan data senada (2018). Banyak di antara responden yang saya wawancara berasal dari keluarga berkecukupan serta memiliki pendidikan universitas. 


Faktor dasar yang menyebabkan orang melakukan terorisme adalah pandangan ‘dunia dalam kondisi perang’, bom bunuh diri adalah tindakan mulia, dan keyakinan ‘Barat adalah musuh karena telah bertindak dzalim terhadap Muslim’ (Putra &Sukabdi, 2013). Meskipun anda berasal dari keluarga mapan dan berpendidikan namun memiliki pandangan-pandangan tersebut, maka kemungkinan untuk engage dengan terorisme sangat tinggi. 


Penulis adalah Pengajar Psikologi Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Peneliti Division for Applied Social Psychology Research (DASPR).


https://www.nu.or.id/post/read/105533/tragedi-bom-sri-lanka-di-hari-paskah-perspektif-psikologi

news

Seminar and Mini Coaching with Prof. Harvey Whitehouse & Colleagues: “The Connection between Religion, Complex Society, Pro-social & Extreme Behavior”

Voltaire, a great French philosopher, once said, “If God did not exist, it would be necessary to invent him”.  It shows us that if God really does not exist, our need of God will persist. And indeed, in the middle of remarkable science advancement through which human become increasingly intelligent and gain more insight and understanding of the big wide world, human inexorably start questioning God and subsequently religion. Is religion still of significance and needed in this fast-growing world? Just as Voltaire, Harvey Whitehouse, a professor of Anthropology from Oxford University, states that both religion and God are still vitally needed in order to preserve morality, particularly in structurally-complex society.


In recent time, Harvey Whitehouse is a director of Institute of Cognitive and Evolutionary Anthropology, fellow professor of Magdalen College of Oxford University, as well as one of the founders of the Resolution of Intractable Conflict Centre. Harvey Whitehouse is a prominent scientist who studies relationship between religion, society, cognitive, and behavior. He, too, was privileged to be main interviewee in Morgan Freeman’s prestigious documentary series, ‘the Story of God’. 


It was such a pleasurable and fruitful moment on 28 July 2019 when Harvey Whitehouse visited Indonesia and gave an excellent presentation in a seminar in Jakarta. The seminar was organized by Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) in collaboration with Ikatan Psikologi Sosial (IPS) and Konsorsium Psikologi Ilmiah Nuantara (KPIN).


Driven by his curiosity and wonder to study the causes and consequences of social cohesion, Harvey Whitehouse reckons Indonesia as one of the best places to conduct research and gain deeper knowledge on the matter. That, for him, is due to the fact that Indonesia is so diverse in terms of culture that there are a great number of social groups capable of influencing social cohesion with different level of intensity and style, which is beyond compelling to be compared. Currently, Harvey Whitehouse is also carrying studies on Muslim minorities across the globe. Thus, given Indonesia is most populous Muslim country in the world, it could be a significant source in establishing comparative studies. Apart from that, the most recent development of the revival of conservative Islam in Indonesia is also considered greatly appealing to be explored. 


In spite of having visited Indonesia before, in addition to conducting a research in the region, Papua New Guinea, Harvey Whitehouse only began to be seriously keen on setting studies in Indonesia after collaborating with Dr. Phil. Idhamsyah Eka Putra and other Indonesian social scientists in early 2017. Idhamsyah Eka Putra is both a lecturer in Universitas Persada Indonesia and DASPR Director. His area of interest is relationship amongst groups, societal psychology, prejudice, and fanaticism in religion. He, too, is renowned as the only social scientist developing a new concept named meta-prejudice.


Considering that he and his research team have a lot of common ideas and research interests with Idamsyah Eka Putra and team, Harvey Whitehouse started to collaborate intensively with DASPR team. He was amazed with DASPR research achievements in his area of research interests. He, thus, believes that there is an enormous potential for further long-lasting cooperation in the future with DASPR.


The moderator role for the seminar was filled by Joevarian Hudiyana, a doctoral research student of Faculty of Psychology, Universitas Indonesia, and managing editor in Jurnal Psikologi Sosial (JPS). Harvey Whitehouse gave thorough explanation on religion, ritual, social complexity, as well as extremism, which is derived from his findings he obtained from his ethnography research in Papua New Guinea. His results have been tested in a global scale to ensure whether or not his concept is valid.


He explained that religion is a result of cultural configuration and information that are continuously reproduced. Based on religious transmission, Harvey Whitehouse develops his core theory called religious mode theory: imagistic and doctrinal. Regarding imagistic mode, there are numerous characteristics lingering it; less frequent enthusiastic ritual; ritual is considered as sign of the reflection about meaning and essential establishment of self; a medium to share experience capable of igniting social cohesion and intense relationship in the group;  inefficient diffusion; and priceless in the effort to achieve high-risk aim, for example intension for war. On the other hand, doctrinal mode is characterized with, high-frequent ritual and standardized doctrine, forming large anonym community, diffused cohesion based on categorical bond, as well as possessing capacity to produce weighty accumulative resource. 


Imagistic mode has an exceptional feature to form and glue society. The implementation of this mode could result in more emotional and deeper bonding within those participate in, whilst doctrinal mode, given it happens in more intense frequent manner, it turns to be habitual and easy to spread. Doctrinal mode, nevertheless, fails to touch emotional dimension, but it carries an important role to plant and form standardized practice in religion. Looking further, understanding of this mode could explain not merely religious phenomenon, but also, at wider scale, any other social phenomenon conundrums such as behavior of certain group of football supporters.


Harvey Whitehouse, too, gave a fascinating presentation regarding complex society. This concept explains that the more complex and developed a particular society, the more individuals in it demand what is called “moralizing Gods”. This complexity will lead people interact not only with those having similar characteristics with them, but also those potential to bring conflict. Hence, “moralizing Gods” are of utmost importance to blossom in a wider society. Moralizing Gods for Harvey Whitehouse is the “eye in the sky”, through which understanding about the existence of God who could see beyond anyone’s mind and the issue of rewards and punishments for every sin and deed appears on the surface. Believing in god make people think of what is right and what is wrong, or what is good and what is bad, as well as lead people to trust each other. Moralizing Gods are also present in more secular societies as a form to control people’s conduct.


What is impressive about mode of religion is that it is able to predict human psychology based on memory, identity, and social cohesion. In a more detailed explanation, Harvey Whitehouse transferred his knowledge on the theory of identity fusion, theory that explicates personal relationships amongst a group. Identity fusion fabricates fight-and-die-response motivation so that it could explain the motive why individuals are willing to sacrifice and fight for the sake of the group they belong, including committing extreme misconduct. Subsequently, it is clearly seen that imagistic mode plays more decisive role in constructing identity fusion. 


In order to achieve identity fusion, the role of experiences becomes undeniably crucial in constructing memory. This is explained comprehensively by Harvey Whitehouse’s colleague, Barbara Muzzulini, a post-doctoral researcher at Oxford University. She presented a concept called autobiography memory, one’s memory on important life events in the past. Autobiography memory takes root from personal memory, memory from others, and internalized public memory. In practice, it is easier for identity fusion to form through episodic memory, memory obtained from direct past experience of individual, which is highly subjective. 


The seminar afterwards shifted to discussion session via which attendance or participants holding keen interest on extremism behavior recently sky-rocketing in Indonesia could ask directly to Harvey Whitehouse and Barbara Muzzulini. DASPR research assistances, then, were given a momentous opportunity to present their research plan on degrading stigma surrounding wives of terrorist convicts. They received priceless suggestions from both Harvey Whitehouse and Barbara Muzzulini who appeared to be so interested in the research plan that they are willing to supervise the research so that it could be of professional-class caliber. The seminar ultimately culminated in a mingle session from which all involved in the seminar could socialize and build productive networking.  


In the end of the day, all participants possessed valuable constructive learning through a remarkable number of high-impact research produced by Harvey Whitehouse and colleagues. Harvey Whitehouse has opened our eyes that religion is not merely a manifestation of faith, but religion could also explain societal behavior. Religion and social cohesion in more complex society simply bring a new compelling dimension on our effort in exploring motivation behind our behavior.  



news

Trailer Film Dokumenter "Keluargaku Jihadku"


Film Dokumenter "Keluargaku Jihadku"


Film ini merupakan salah satu bentuk dedikasi kami terhadap masalah sosial di Indonesia, khususnya mengenai isu terorisme. Film ini mengikutsertakan 4 orang istri terpidana kasus terorisme untuk menyuarakan pendapat dan pengalaman personal mereka sebagai pihak terdampak. 


Jika tertarik ingin mengadakan acara Nobar & Diskusi film (melibatkan salah satu tokoh istri yang diangkat ceritanya dalam film serta salah satu peneliti yang terlibat langsung dalam pembuatan film) di kampus-kampus anda, silahkan hubungi kami via email timdaspr.ui@gmail.com.

news

Liputan Acara Pre-Launching dan Diskusi Film: Keluargaku, Jihadku

Rabu 31 Juli 2019 diadakan Pre-launching dan Diskusi Film Keluargaku, Jihadku oleh DASPR (Division for Applied Social Psychology Research) di Gedung PKBI Jakarta Selatan. Acara diawali dengan pembukaan oleh tim DASPR yang menjelaskan tentang tujuan dan proses pembuatan film yang bercerita mengenai keluh kesah 4 istri Narapidana (Napi) Teroris di Indonesia yang disoroti dari perspektif psikologi sosial. Dari film tersebut, para penonton diajak untuk melihat lebih dekat kesaksian-kesaksian hidup serta berbagai permasalahan yang dialami para istri Napi teroris mulai dari awal bertemu, menikah (rata-rata dengan proses ta’aruf) dan membangun kehidupan rumah tangga dengan suaminya yang terlibat dalam jaringan Teroris di Indonesia.


Selengkapnya:

http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/444-liputan-acara-pre-launching-dan-diskusi-film-keluargaku-jihadku

http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/444-liputan-acara-pre-launching-dan-diskusi-film-keluargaku-jihadku

See older posts

57

Total Publication

11

Research Collaboration

18

Programs

3943

Viewers