Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) adalah grup para scholar-activists yang tergerak untuk membantu menyelesaikan masalah sosial, terutama pada konflik antar-kelompok, isu-isu kemanusian, dan kekerasan ekstrim. Di sini, perspektif dalam metode psikologi sosial digunakan sebagai alat: untuk memahami bagaimana orang berpikir, mempengaruhi, dan berhubungan satu sama lainnya di dalam masyarakat dan wacana keseharian; dan untuk memodifikasi, memandu, sebagaimana juga mengintervensi pikiran dan perilaku manusia, terutama sekali ke arah yang lebih manusiawi.

News and Events

Division for Applied Social Psychology Research

news

RESENSI BUKU: Panduan Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstrimisme Kekerasan Tingkat Desa

KabarIndonesia - Buku berjudul "Panduan Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstremisme Kekerasan Tingkat Desa", diterbitkan oleh Indonesia Civil Society Against Violent Extremism (CSAVE) dan Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) dari Ichsan Malik Centre for Peace and Dialog, 24 Februari 2019, vi+84 hlm, luas buku A5.


"Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstrimisme Kekerasan Tingkat Desa adalah sistem yang ditujukan bagi warga desa untuk dapat mendeteksi tanda dan gejala awal ekstrimisme kekerasan dan melakukan penanganan sedini mungkin di tingkat desa dengan sistem rujukan di tingkat kecamatan dan kabupaten"(hlm.8). Sistem ini ditujukan sebagai upaya pencegahan penyebaran ideologi ekstrimisme kekerasan sehingga warga masyarakat tidak terjebak pada proses radikalisasi lebih lanjut dengan resiko yang lebih berat. 


Dalam sistem deteksi ini, berlaku prinsip-prinsip : prinsip Do-No-Harm (prinsip tidak memunculkan bahaya dan pengrusakan lebih lanjut), prinsip kehati-hatian (prudential), prinsip menghargai keindividuan (individual differences),prinsip perlindungan HAM, prinsip kerahasiaan dan akuntabilitas, prinsip kepekaan sosial, prinsip kesetaraan, prinsip kesetaraan gender, dan prinsip pemenuhan hak anak.


Adanya Tim Desa dalam sistem ini tentunya banyak menimbulkan pertanyaan bagi banyak kalangan di desa atau kelurahan, seperti apa itu? Buku ini mencoba menawarkan sebuah sistem yang digambarkan bisa dijadikan model di tingkat desa. Berangkat dari pilot project di 10 desa, buku ini mencoba berbagi informasi dan capaiannya dalam upaya membangun sistem deteksi dan penanganan dini terhadap ekstrimisme kekerasan di tingkat desa. Gambaran bagaimana sistem ini bekerja dijelaskan dengan memaparkan adanya Tim Desa dan peran-perannya, dan ditampilkan alur tata laksana pengelolaan kasus.


Buku ini memberikan pengetahuan bagi para pembaca tentang apa itu ekstrimisme kekerasan dan radikalisme yang berpotensi pada ekstrimisme kekerasan. Sekilas tentang sejarah ekstrimisme kekerasan di Indonesia dipaparkan-mulai dari Gerakan NII Kartosoewirjo (1949), Komando Jihad (1968-1981), Gerakan Front Pembebasan Muslim Indonesia (1977-1981), Jamaah Islamiyah--JI (1990), Front Pembela Islam--FPI (1998), Majelis Mujahidin Indonesia (2000), Jamaah Ansharut Tauhid--JAT(2008), Mujahidin Indonesia Timur--MIT (2010), Jamaah Ansharusy Syariah-JAS(2014), Jamaah Ansharud Daulah-JAD (2015) yang berafiliasi dengan ISIS, tahun 2016 tercatat 530 orang Indonesia ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS (BNPT), yang didominasi oleh radikalisasi agama yang mengejawantahkan dalam bentuk gerakan pemberontakan terhadap ideologi negara NKRI dan mengajarkan nilai ekstrimisme kekerasan, seperti orang yang tidak seiman boleh dibunuh, disembelih, dipenggal dan seterusnya. Sayangnya, catatan gerakan ekstrimisme kekerasan yang disajikan hanya dari kelompok radikalis Islam; apakah memang tidak ada catatan sejarah dari kelompok radikalis lainnya yang juga menimbulkan ektrimisme kekerasan? 


Buku ini juga memberikan pembelajaran tentang gejala-gejala perubahan sikap dan perilaku manusia dalam hubungan sosial, ideologi, dan tindakan kriminal. Dari sini, derajat intensitas bahaya bisa dikenali dalam tiga bagian/kelompok, yaitu tingkat 1) Waspada, sebagai derajat bahaya rendah dengan adanya tindakan ektrimisme berskala kecil; 2) Siaga, sebagai derajat bahaya menengah dengan adanya penyebarluasan paham dan kegiatan ekstrimisme kekerasan; 3)Awas, sebagai derajat bahaya tinggi dengan adanya aksi ekstrimisme kekerasan. 


Berbagai upaya pencegahan dan penanganan kasus ditawarkan dengan basis analisis akademis, karena muatan buku ini nampak kental berangkat dari teori dan refensi akademis. Upaya-upaya pencegahan melalui : peningkatan daya kritis individu, peran penting keluarga, pendidikan dan pergaulan anak, pengasuhan anak (parenting), dan keterlibatan masyarakat desa dalam penerapan sistem deteksi dan penanganan dini. Akhirnya, buku ini mencoba memberikan kejelasan tentang Tim Desa yang diwujudkan dalam deskripsi Struktur Tim Desa lengkap dengan peran dan tugasnya. Dan yang menarik adalah penyajian 7 kasus di Indonesia yang telah dicatat dalam program CSAVE. 


Secara keseluruhan, buku ini cukup baik dalam memberikan pemaparan tentang adanya bahaya gerakan radikalisme dan ekstrimisme kekerasan di Indonesia, dan bagaimana upaya-upaya bisa dilakukan di tingkat individu dan di tingkat desa sebagai upaya sistemik yang ditawarkan dengan melibatkan aparat pemerintahan desa dan semua elemen masyarakat. Upaya kerja keras untuk menyusun buku ini oleh para kontributor : Fajar Erikha, Vici Sofianna Putera, Any Rufaedah, dan Idhamsyah Eka Putra perlu mendapatkan apresiasi tersendiri, dan tentunya juga atas dukungan Mira Kusumarini sebagai penanggungjawab program dan pengadaan buku ini. 


Catatan minor yang perlu diperhatikan adalah pendekatan ini lebih bersifat top-down ketimbang pendekatan partisipatif yang memanfaatkan secara optimal modal sosial-budaya yang ada dalam masyarakat lokal. Namun demikian, upaya intervensi ini tetap perlu sebagai upaya besar yang menjadi tanggungjawab bersama, sebelum semuanya terlambat dan bahaya ekstrimisme kekerasan memakan korban jiwa anak-anak bangsa kita sendiri. Buku ini perlu dan penting untuk menjadi salah satu bahan bacaan di sekolah-sekolah, madrasah, pesantren, kelompok belajar, dan perpustakaan di daerah-daerah dalam rangka menjaga keutuhan NKRI dan kedamaian hidup berbangsa dan bernegara yang dinamis.(*)


Penulis : Djuneidi Saripurnawan, konsultan teknis CSAVE Indonesia(2019), Alumnus Studi Antropologi-Universitas Gadjah Mada dan Teknik Sipil-UAJY Yogyakarta. 



Sumber Asli: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&jd=RESENSI+BUKU%3A+Panduan+Sistem+Deteksi+dan+Penanganan+Dini+Ekstrimisme+Kekerasan+Tingkat+Desa&dn=20190226061104

news

Begini Sikap Mantan Teroris Terkait Pembakaran Bendera Bertuliskan Tahlil

Jakarta, Gatra.com - Insiden pembakaran bendera bertuliskan lafal tahlil turut menjadi sorotan mantan narapidana kasus terorisme Nasir Abas. 

Bekas anggota Jamaah Islamiyah (JI) ini menghimbau agar umat islam saat jangan mudah terprovokasi dengan peristiwa yang bisa memecah belah persatuan umat. 

Menurut Nasir Abas, insiden pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser perlu dipahami secara jernih. 

Memang menurutnya, adakalanya kertas atau benda yang bertuliskan lafal Al Quran boleh dibakar untuk tujuan tertentu. 

Misalnya jika khawatir akan dibuang di tempat sampah. Hanya saja proses membakarnya tidak disertai emosi atau mungkin perasaan senang. Apalagi disaksikan oleh banyak orang.

“Seperti kasus dulu ada kertas yang isinya ayat Quran justru dibuat bungkus (makanan). Ini kan tidak benar, ini persoalan akhlak,” tuturnya pada pengajian mantan narapidana teroris yang diadakan Rumah Daulat Buku (Rudalku) di Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (24/10) 

Rumah Daulat Buku merupakan gerakan literasi yang didirikan Soffa Ihsan untuk meningkatkan minat baca para mantan narapidana terorisme (napiter) agar berfikiran terbuka dan menjauhi radikalisme. 

Pada pengajian siang itu, Nasir Abas menyampaikan ceramah bertema “Dari Jihadis ke Dakwah Berdasarkan Ilmu”. 

Ada 10 nara pidana teroris (napiter) yang hadir, di antaranya yang pernah terlibat kasus Bom Buku, Bom JW Marriot, konflik Ambon, dan Bom Beji-Depok. 

Pada pengajian ke empat yang diadakan Rudalku, Nasir Abas menekankan pentingnya menggunakan akhlak dalam menyikapi berbagai hal. 

Pasalnya, Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu jihad pun harus dengan akhlak, tidak bisa hanya dengan mengandalkan semangat. 

Untuk menggapai akhlak terpuji, menurut Nasir Abas, diperlukan ilmu agama yang mendalam. 

Ada pun mengenai jihad yang berarti perang, Nasir Abas menjelaskan, tidak bisa ditafsirkan oleh muslim perorangan, malainkan harus ijtihad para ulama. 

Itupun harus disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu. 

“Misalnya dulu ada resolusi jihad oleh kyai haji Hasyim Asy’ari (Pendiri NU). Itu merupakan kebutuhan saat itu demi melawan penjajah. Ada ulama sekaliber kyai Hasyim Asy’ari yang menjadi rujukan,” jelasnya. 

Untuk konteks kondisi saat ini yang dalam keadaan damai, menurut Nasir Abas, semangat jihad harus diarahkan untuk mencari ilmu, dan berupaya bermanfaat bagi umat. 

“Karena itu nabi sendiri sudah menjelaskan misalnya orang yang tenggelam atau kena bencana alam atau saat mencari nafkah keluarganya merupakan jihad, yang bisa menjadikan seseorang menjadi syahid,” imbuhnya. 

Kepada para mantan napiter, Nasir Abas mengingatkan bahwa jangan berfikir jihad selalu memiliki arti perang dan tujuannya untuk mati. 

“Seperti Kholid bin Walid yang berkali-kali perang tapi wafatnya di tempat tidur. Hikmahnya bahwa jihad dalam arti perang perlu dihindari kecuali situasi mendesak. Yang penting jjihad dalam artian mashlahat bagi umat. Ini yg perlu diwujudkan,” pungkasnya.


https://www.gatra.com/detail/news/359139-Begini-Sikap-Mantan-Teroris-Terkait-Pembakaran-Bendera-Bertuliskan-Tahlil

news

Tragedi Bom Sri Lanka di Hari Paskah: Perspektif Psikologi

Serangan teror di Sri Lanka 21 April 2019 lalu benar-benar menyedot perhatian dunia. Bukan serangan biasa, ledakan di tiga gereja, tiga hotel mewah, dan satu lokasi di sebuah perumahan terjadi sekaligus. Otoritas Sri Lanka menyebut National Thowheeth Jama’ath (NTJ) adalah pelaku serangan. Belum ada yang dapat memastikan apakah serangan berkaitan dengan Islamic State (IS/ISIS) pada saat itu. Jawaban muncul dua hari setelah serangan. Pemilihan gereja dan hotel bertaraf internasional dimaksudkan untuk menyerang koalisi against ISIS–di mana Amerika paling aktif–secara tidak langsung (lihat: Katz, 2019)


ISIS menyatakan bertanggung jawab atas serangan Sri Lanka melalui media resminya, Amaq. ISIS juga merilis video baiat Zahran Hashim, pendiri NTJ dan juga pimpinan amaliyah (operasi), bersama tujuh pelaku lainnya, sebelum melakukan amaliyah. Dalam video itu, Zahran dan rekan tampak sangat mempersiapkan diri. Semua mengenakan jubah berwarna abu-abu dan sorban penutup kepala (kecuali Zahran) yang sama. 


Kondisi Sri Lanka tidak segera mereda. Jumat (26/4), terduga kelompok Zahran Hashim meledakkan diri saat polisi melakukan penggerebekan. 15 orang termasuk enam anak meninggal akibat ledakan tersebut (bbm.com). Kepolisian menangkap lebih dari 70 terduga, termasuk empat perempuan. Sebagian besar memiliki hubungan keluarga atau teman pelaku serangan (cnn.com).


Bagi saya yang menekuni kajian psikologi, ada beberapa hal menarik yang dapat ditinjau dari perspektif psikologi. Serangan Sri Lanka disebut-sebut sebagai aksi balas dendam terhadap New Zealand attack 15 Mei lalu. Dugaan ini perlu dipertanyakan ulang. 


Setelah peristiwa New Zealand, banyak sekali umat Kristiani yang melakukan aksi solidaritas (lihat: bbc.com; aljazeera.com). Perdana Menteri Zew Zealand, Jacinda Ardern, dan perempuan dari berbagai profesi mengenakan hijab sebagai tanda solidaritas terdapat Muslim (www.washingtonpost.com). Senator Queensland, Fraser Anning, menerima mosi kecaman dari senator lainnya dan masyarakat dunia atas komentarnya yang menyalahkan korban (cbsnews.com). 


Solidaritas dari non-Muslim yang sebagian besar adalah Nasrani seharusnya cukup menjadi alasan untuk tidak balas dendam. Brenton Tarrant adalah oknum dari minoritas Kristen yang tidak menyukai Muslim. Ia sama sekali bukan representasi Nasrani. Benarkah Easter Sunday blast adalah balas dendam terhadap serangan New Zealand? Saya berpandangan tidak. New Zealand dapat menjadi faktor pendorong, tetapi prosentasenya kecil. Misi utama ISIS adalah mengalahkan Global Coalition Against ISIS yang berisi 79 anggota (74 negara dan 5 organisasi internasional). 


ISIS telah kehilangan banyak wilayah kekuasaan. Sejak 2015 hingga 2018, wilayah ISIS semakin menyempit. Tahun ini pun ISIS belum bebas dari gempuran. Koalisi global mengambil alih Baghouz, sebuah kota di Provinsi Deir ez-Zor, Syria. ISIS boleh dibilang semakin terjepit. Kondisi itu meningkatkan tensi untuk melakukan serangan balik dengan porsi yang sebanding. Kita tinjau kembali tujuh serangan di Sri Lanka, ISIS menentukan target sangat besar. Hal itu mencerminkan tingginya tensi balas dendam terhadap koalisi.


Pertanyaan selanjutnya adalah, Sri Lanka bukan negara yang tergabung dalam koalisi against ISIS, namun mengapa justru menjadi sasaran teror? Sasaran ISIS bukan lagi wilayah, melainkan kelompok. Abu Bakar al Baghdadi telah memperbolehkan junud (tentara) ISIS untuk melakukan jihad di manapun, terutama bagi mereka yang tidak dapat hijrah ke Syria atau Iraq. 


Bom Surabaya tahun lalu dan bom Sulu, Filipina, adalah contoh jihad yang dilakukan para junud di luar Syria dan Iraq. Sasaran mereka adalah kelompok non-Muslim, terutama penganut agama Kristen yang dianggap sebagai representasi Amerika. Begitu pula yang terjadi di Sri Lanka. Pemilihan gereja dan hotel bertaraf internasional dimaksudkan untuk menyerang koalisi against ISIS –dimana Amerika paling aktif – secara tidak langsung. 


Interpretasi al wala’ wal baro’


Salah satu prinsip utama ISIS adalah al-wala’ wal bara’. Al-wala’ wal bara’ secara harfiah berarti loyal terhadap Muslim dan berlepas diri dari kekafiran dan perbuatan buruk (lihat: Ferdiansyah, 2018). Namun kelompok ISIS memaknainya dengan loyal terhadap amirul mukminin dan membenci orang kafir (Gunaratna, 2019). Ideologi khilafah memang mensyaratkan kepatuhan terhadap amirul mukminin.


Oleh karena itu, loyal terhadap amirul mukminin sudah dianggap sebagai loyal terhadap Muslim. Prosesi baiat sebelum melakukan amaliyah ishtishadi (bom bunuh diri) di Sri Lanka adalah bukti loyalitas terhadap amirul mukminin. Dan serangan adalah bentuk dari sikap bara’. Interpretasi al wala’ wal bara’ inilah yang menjadi pendorong serta justifikasi tindakan teror. 


Dalam kajian psikologi sosial, perilaku umumnya didahului oleh sikap. Jika sikap anda setuju terhadap A, maka kemungkinan anda akan melakukan tindakan-tindakan mendukung A. Para ‘pengantin’ Sri Lanka bombing begitu sangat yakin dan ‘brutal’ membunuh sebanyak-banyaknya non-Muslim karena konsep bara’ yang dimaknai ‘membenci’ non-Muslim. 

Korelasi Ekonomi dan Pendidikan dengan Terorisme


Para pelaku serangan Sri Lanka adalah orang-orang berkecukupan dan berpendidikan tinggi. Ilham Ahmed Ibrahim dan Inshaf adalah anak pengusaha rempah-rempah, Mohamed Ibrahim - yang oleh New York Time (27/4) disebut milioner. Ia pemilik Ishana Exports yang merupakan eksporter rempah-rempah terbesar di Sri Lanka sejak 2006 (cnn.com). Seorang menantu Ibrahim juga meledakkan diri saat polisi menggerebek rumahnya. 


Seorang pelaku lainnya diketahui mendapat pendidikan di Inggris dan menyelesaikan gelar master di Australia (bostonglobe.com). Data-data ini menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Namun, hal itu tidak mengherankan. Studi-studi psikologi tidak menemukan hubungan yang kuat antara status ekonomi dan pendidikan dengan aksi teror. 


Kita dapat melihatnya pada pelaku bom Bali, Osama bin Laden, dan Abu Bakar al Baghdadi. Pelaku bom Bali adalah putra-putra pemilik pondok pesantren di Lamongan. Mereka mapan secara ekonomi dan juga mendapat pendidikan yang baik. Osama bin Laden adalah anak milioner Saudi yangmemiliki perusahaan konstruksi. 


Sementara amir ISIS saat ini, Abu Bakar al Baghdadi, bergelar doktor. Kita juga pernah mendengar nama Dr. Azahari yang mendanai dan menjadi otak bom Bali, Kedutaan Australia, dan Hotel J Marriot. Ia mengenyam pendidikan di Australia dan Inggris dan pernah menjadi dosen. Temuan penelitian saya juga menghasilkan data senada (2018). Banyak di antara responden yang saya wawancara berasal dari keluarga berkecukupan serta memiliki pendidikan universitas. 


Faktor dasar yang menyebabkan orang melakukan terorisme adalah pandangan ‘dunia dalam kondisi perang’, bom bunuh diri adalah tindakan mulia, dan keyakinan ‘Barat adalah musuh karena telah bertindak dzalim terhadap Muslim’ (Putra &Sukabdi, 2013). Meskipun anda berasal dari keluarga mapan dan berpendidikan namun memiliki pandangan-pandangan tersebut, maka kemungkinan untuk engage dengan terorisme sangat tinggi. 


Penulis adalah Pengajar Psikologi Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Peneliti Division for Applied Social Psychology Research (DASPR).


https://www.nu.or.id/post/read/105533/tragedi-bom-sri-lanka-di-hari-paskah-perspektif-psikologi

news

Half Day Seminar and Mini Coaching: The Connection between Religion, Complex Society, Pro-social & Extreme Behavior

Filosof Besar asal Prancis, Voltaire pernah berkata: “If God did not exist, it would be necessary to invent him”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa jika pun nanti ditemukan bahwa Tuhan tidak ada, kita tetap membutuhkan adanya Tuhan. Dan benar saja, di tengah gencarnya perkembangan ilmu pengetahuan di mana manusia semakin cerdas dan mudah mengenal dunia, orang juga sudah mulai mempertanyakan Tuhan dan Agama. Apakah agama masih dibutuhkan di dunia yang semakin maju ini? Seperti menyambung Voltaire, Harvey Whitehouse, Profesor Antropologi dari universitas Oxford, mengungkapkan bahwa Agama dan Tuhan dibutuhkan untuk menjaga moral, terutama sekali di struktur masyarakat yang semakin kompleks. 

 

Saat ini, Harvey Whitehouse adalah direktur Institute of Cognitive and Evolutionary Anthropology, fellow Professor di Magdalen College di Universitas Oxford, serta salah satu pendiri Centre of the Resolution of Intractable Conflict. Harvey Whitehouse adalah ilmuan terkemuka yang mengkaji hubungan agama, masyarakat, kognitif, dan perilaku. Beliau juga pernah menjadi Narasumber utama di salah seri dokumenter mengenai “the story of God” yang dinarasikan oleh Morgan Freeman. 


Beruntung sekali, di akhir Juli lalu Harvey Whitehouse berkunjung ke Indonesia dan memberikan seminar terbuka di Jakarta pada tanggal 28 Juli 2019. Seminar ini dapat terselenggara atas inisiatif dari Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) Jakarta dan bekerjasama dengan Ikatan Psikologi Sosial (IPS) dan Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN). 

Karena ketertarikan Beliau dalam mengkaji penyebab dan konsekuensi dari social cohesion di masyarakat, Harvey Whitehouse memandang Indonesia sebagai salah satu tempat yang tepat untuk melalukan riset dan mendalami area penelitian tersebut. Hal itu, menurutnya, dikarenakan Indonesia merupakan negara yang begitu beragam secara kultural; artinya banyak kelompok masyarakat dengan intensitas dan ragam berbeda yang dapat memengaruhi kerekatan sosial yang mana sangat menarik untuk dibandingkan. Harvey Whitehouse saat ini juga sedang melakukan studi tentang minoritas muslim di negara-negara lain, oleh karenanya fakta bahwa Indonesia memiliki populasi dengan mayoritas beragama Islam akan membantu untuk membuat perbandingan hasil yang sangat berharga dan dapat ditelusuri lebih dalam. Selain itu, kebangkitan kelompok-kelompok Islam konservatif di Indonesia belakangan ini juga dianggap sangat menarik untuk dieksplorasi. 

Walaupun jauh sebelumnya Harvey Whitehouse pernah ke Indonesia dan juga meneliti di Papua Nugini, Harvey Whitehouse baru mulai benar-benar serius melakukan studinya di Indonesia saat berkenalan dan berkolaborasi dengan Dr. phil. Idhamsyah Eka Putra dan kolega-kolega ilmuan sosial lainnya di awal tahun 2017. Idhamsyah Eka Putra adalah Dosen di Universitas Persada Indonesia dan Direktur DASPR. Area konsentrasi studi beliau adalah pada hubungan antar kelompok, societal psychology, prasangka, dan fanatisme agama. Beliau juga terkenal karena telah mengembangkan konsep baru yang dinamakan meta-prasangka (i.e. meta-prejudice). 

Dalam perjalanannya, karena Harvey Whitehouse dan tim risetnya merasa sejalan dengan ide dan ketertarikan dengan Idhamsyah Eka Putra dan tim risetnya, Harvey Whitehouse mulai intens melakukan kolaborasi yang berkesinambungan dengan Idhamsyah Eka Putra dan tim dari DASPR. Harvey Whitehouse mengungkapkan alasannya karena sangat terkesima dengan research achievement DASPR pada bidang-bidang yang menjadi ketertarikannya. Karena inilah, beliaupun melihat potensi yang besar untuk melakukan kolaborasi yang berkesinambungan di masa-masa yang akan datang.

Acara seminar dimoderatori oleh Joevarian Hudiyana yang merupakan Doctoral Researcher dari fakultas Psikologi, Universitas Indonesia dan managing editor di Jurnal Psikologi Sosial (JPS). Di dalam seminar, Harvey Whitehouse memaparkan presentasi tentang religi, ritual, kompleksitas sosial, dan ekstremisme. Presentasi ini merupakan hasil temuan dari penelitian etnografi yang ia lakukan di Papua Nugini dan hasil tesnya telah diujikan kembali secara global untuk memastikan bahwa konsepnya tahan uji. 

Menurutnya, religi merupakan konfigurasi dari informasi kultural yang direproduksi sepanjang waktu. Berdasarkan fakta terkait transmisi religi, Harvey Whitehouse mengembangkan teori utama yang disebutnya sebagai mode dari agama: imagistic dan doctrinal. Mode imagistic memiliki beberapa karakteristik, yaitu: frekuensi yang jarang/ ritual dengan gairah yang besar, ritual merupakan bentuk peringatan dari refleksi tentang makna dan pembentukan esensial diri secara personal, saling berbagi pengalaman yang menimbulkan kohesi yang intens dalam hubungan kelompok, penyebaran yang tidak efisien (terlokalisasi), serta sangat bermanfaat dalam upaya pencapaian berisiko tinggi (misalnya intensi berperang). Mode doctrinal sementara itu memiliki karakteristik: ritual dengan frekuensi yang sering dan memiliki doktrin yang terstandarisasi, membentuk komunitas dengan kelompok yang besar dan anonim, kekuatan kohesinya tersebar berdasarkan ikatan kategorikal, serta memiliki kapasitas untuk menghasilkan sumber daya yang besar dan akumulatif.

 Mode imagistic dianggap sebagai sebuah mode yang membentuk dan merekatkan antar masyarakat. Implementasi mode ini menghasilkan dampak yang lebih emosional dan membentuk kelekatan di antara mereka yang berpartisipasi. Sementara itu, mode doctrinal dikarenakan berlangsung dengan intensitas yang relatif sering, menjadi sebuah kebiasaan dan lebih mudah disebarluaskan informasinya. Namun begitu, dampak dari mode ini tidak terlalu menyentuh sisi emosional, tetapi lebih mengarah pada upaya penyebaran dan pembentukan pemahaman praktik standarisasi dalam agama. Dalam jangkauan lebih lanjut, pemahaman tentang mode ini tidak hanya mampu menjelaskan tentang fenomena agama, namun berbagai fenomena sosial lainnya di luar lingkup agama, misalnya tentang perilaku yang dilakukan oleh suporter sepakbola.


Harvey Whitehouse juga memaparkan tentang konsep complex society. Konsep ini menjelaskan bahwa semakin kompleks dan berkembangnya suatu tatanan masyarakat, maka individu semakin membutuhkan apa yang dinamakan dengan “moralizing Gods”. Kompleksitas ini membuat individu akan berhubungan dan berelasi tidak hanya pada individu lain yang ia kenal dan sama karakteristiknya, namun juga individu-individu asing yang berpotensi menghasilkan konflik di era masyarakat modern. Untuk itu, “moralizing Gods” sangat diperlukan untuk tumbuh di masyarakat dengan skala luas dan besar. “Moralizing Gods” dianggap oleh Harvey Whitehouse sebagai “eye in the sky”, di mana muncul pemahaman tentang adanya “Tuhan” yang dapat melihat pikiran individu dan hadirnya isu tentang rewards dan punishments dari setiap perilaku yang dilakukan oleh individu itu sendiri. Kepercayaan terhadap “Tuhan” membuat individu berpikir tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk, serta membangun rasa percaya antar sesama. Tambahannya, Harvey Whitehouse menuturkan bahwa konsep “moralizing Gods” juga hadir pada tatanan masyarakat yang lebih sekuler dan merupakan bentuk dari pengawasan terhadap perilaku individu dan masyarakat.


Adanya mode religi juga mampu membuat prediksi tentang psikologi manusia berdasarkan memori, identitas, dan kohesi sosial. Harvey Whitehouse secara lebih detil memaparkan tentang teori penggabungan identitas (identity fusion) yang mana mampu menjelaskan keterwakilan hubungan personal di dalam kelompok. Penggabungan identitas membangun motivasi fight and die response, sehingga mampu menjelaskan alasan individu mau dan berani merelakan dirinya untuk kelompok dan bertarung atas nama kelompok, termasuk melalukan kegiatan ekstrem. Pada perjalanannya, disadari bahwa mode imagistik memainkan peranan lebih besar dalam membentuk identity fusion. 


Dalam upaya mencapai identity fusion, peran dari “berbagi pengalaman” dalam membentuk memori menjadi krusial. Pembahasan ini dijelaskan oleh kolega Harvey Whitehouse yang diajaknya datang ke Jakarta, Dr Barbara Muzzulini. Barbara Muzzulini adalah post doctoral researcher di Universitas Oxford. Ia memaparkan tentang konsep memori autobiografi sebagai ingatan individu terkait dengan kejadian-kejadian penting di masa lalu di dalam kehidupannya. Memori autobiografi berasal dari memori personal, memori dari informasi orang lain, dan memori dari kejadian publik yang dipelajari. Dalam praktiknya, identity fusion akan lebih terbentuk melalui kehadiran memori episodik, yaitu memori yang dihasilkan berdasarkan pengalaman masa lalu langsung dari individu dan bersifat sangat subjektif.

 

Seminar kemudian dilanjutkan oleh diskusi dan tanya jawab dari peserta yang hadir dan memiliki rasa keingintahuan yang besar tentang fenomena perilaku ekstremisme yang semakin marak terjadi, khususnya di Indonesia. Terakhir, junior researcher DASPR juga memperoleh kesempatan berharga untuk memaparkan rencana penelitian mereka tentang stigmatisasi yang dialami oleh para istri narapidana terorisme dan mendapatkan masukan berharga dari Harvey Whitehouse dan Barbara Muzzulini. Mereka pun bersedia untuk membantu para junior researcher untuk mampu membuat penelitian yang berkualitas dan bermanfaat ke depannya. Pada akhirnya, kegiatan ini ditutup dengan sesi mingle di antara para peserta, sekaligus membangun koneksi yang lebih luas antar peserta dan antara peserta dengan pembicara.


DASPR dan peserta yang hadir pun memperoleh pembelajaran berharga dari riset-riset yang dilakukan oleh Harvey Whitehouse dan kolega. Perkenalan kami dengan Harvey Whitehouse menyadarkan kita semua bahwa agama tidak sekedar sebagai perwujudan penghayatan, tetapi juga konteks agama dan peranannnya dalam hubungan dan perilaku masyarakat dapat dikaji melalui berbagai pendekatan ilmiah. Agama dan bangunan dari kohesi sosial dalam tatanan masyarakat yang lebih kompleks menghadirkan satu dimensi baru akan penjelasan tentang alasan di balik motivasi dan perilaku tiap-tiap individu di dalam masyarakat.

 



news

Trailer Film Dokumenter "Keluargaku Jihadku"


Film Dokumenter "Keluargaku Jihadku"


Film ini merupakan salah satu bentuk dedikasi kami terhadap masalah sosial di Indonesia, khususnya mengenai isu terorisme. Film ini mengikutsertakan 4 orang istri terpidana kasus terorisme untuk menyuarakan pendapat dan pengalaman personal mereka sebagai pihak terdampak. 


Jika tertarik ingin mengadakan acara Nobar & Diskusi film (melibatkan salah satu tokoh istri yang diangkat ceritanya dalam film serta salah satu peneliti yang terlibat langsung dalam pembuatan film) di kampus-kampus anda, silahkan hubungi kami via email timdaspr.ui@gmail.com.


news

Liputan Acara Pre-Launching dan Diskusi Film: Keluargaku, Jihadku

Rabu 31 Juli 2019 diadakan Pre-launching dan Diskusi Film Keluargaku, Jihadku oleh DASPR (Division for Applied Social Psychology Research) di Gedung PKBI Jakarta Selatan. Acara diawali dengan pembukaan oleh tim DASPR yang menjelaskan tentang tujuan dan proses pembuatan film yang bercerita mengenai keluh kesah 4 istri Narapidana (Napi) Teroris di Indonesia yang disoroti dari perspektif psikologi sosial. Dari film tersebut, para penonton diajak untuk melihat lebih dekat kesaksian-kesaksian hidup serta berbagai permasalahan yang dialami para istri Napi teroris mulai dari awal bertemu, menikah (rata-rata dengan proses ta’aruf) dan membangun kehidupan rumah tangga dengan suaminya yang terlibat dalam jaringan Teroris di Indonesia.


Selengkapnya

http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/444-liputan-acara-pre-launching-dan-diskusi-film-keluargaku-jihadku

http://www.buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/444-liputan-acara-pre-launching-dan-diskusi-film-keluargaku-jihadku

Lihat post lama

57

Jumlah Publikasi

11

Kolaborasi Riset

18

Program

3945

Viewers